Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 April 2011





Mozaik  3
Kemarau
BARANGKALI  karena hawa panas yang tak mau menguap dari kamar-kamar sempit yang dimuati tujuh anak. Barangkali lantaran mertua makin cerewet karena gerah. Barangkali karena musim kemarau yang terlanjur berkepanjangan, kampung kami menjadi sangat tidak enak setelah bulan Maret sampai September.
            Tak ada yang betah di rumah, dan makin menyusahkan karena tak ada hiburan di luar. Adakalanya biduanita organ tunggal meliuk- liuk seperti belut sawah di atas panggung berhias pelepah kelapa di pinggir pantai, lebih menyanyikan maksiat daripada lagu. Tapi hanya lama- lama sekali, pun kalau harga timah sedang bagus- yang amat jarang bagus.
            Tak ada galeri seni, gedung bioskop, kafe-kafe, atau pusat perbelanjaan untuk dikunjungi. Yang sedikit perhatian hanya sebuah jam besar di tengah kota dan jam itu sudah rusak selama 46 tahun. Jarum pendeknya ngerem mendadak di angka lima. Jarum panjangnya mengembuskan nafas terakhir di pelukan angka dua belas. Jarum detik telah minggat dengan perempuan lain, tak tahu kemana. Melihat jam itu sejak kecil, aku punya firasat bahwa jika nanti dunia kiamat, kejadiannya akan tepat pukul lima.
            Namun, tak pernah kami risaukan semua itu, sebab kami punya sebuah museum, dan museum kami adalah museum yang hebat di dunia ini. Tak ada yang bisa menandinginya sebab ia museum sekaligus kebun binatang.
            Baiklah, mari bicara soal museum. Disana ada sebuah ruangan yang jika dimasuki harus membuka sandal dan mengucapkan Assalamualaikum, demi menghormati tombak- tombak karatan, peninggalan para hulubalang antah barantah. Uang kecil yang diselipkan ke dalam kotak di samping tombak- tombak itu dapat menyebabkan pendermanya awet muda dan enteng mencari jodoh. Anak- anak yang tak sengaja menunjuk tombak- tombak ituharus mengisap telunjuknya, agar tidak kualat.
            Dari jendela museum, istimewa sekali, tampak hewan- hewan berkeliaran. Itulah kebun binatang kami. Setiap minggu tempat itu dipenuhi oleh orang- orang yang ingin melihat kijang yang saking buduknya sudah tampak seperti kambing. Ada pula unta gaek yang menderita sakit batuk, nyawanya seperti mau copot. Ada zebra jompo yang hanya memandang ke satu jurusan saja. Tak paham aku apa yang tengah berkecamuk di dalam kalbunya. Ada orang utan uzur yang sudah ompong dan tampak terang- terangan menafsui bebek- bebek gendut di kolam butek sebelah sana. Tak ada malu sama sekali. Lalu ada singa tua kurapan bermata sendu macam penyanyi dangdut. Singa itu sepertinya sangat benci pada hidupnya sendiri. Mereka muak melihat orang- orang udik yang menonton mereka di dalam kandang. Konon mereka dihibahkan ke kampung kami karena telah afkir dari sebuah kebun binatang di Jawa, di mana mereka dianggap tidak sexy lagi. Namun, seperti segala sesuatu yang kami terima apa adanya, seperti segala sesuatu yang tak pernah berubah di kampung kami, mahluk- mahluk hidup segan mati tak mau itu selalu punya tempat di dalam kebun binatang kami, di dalam hati kami. Hewan- hewan itu menguap sepanjang hari, mereka hanya seekor saja dari jenisnya masing- masing, jadi mereka adalah pejantan bujang lapuk seumur- umur. Sungguh mengerikan hidup ini kadang- kadang.
            Jika kemarau makin menggelegak, aku menyingkir dan duduk melamun dibelai angin di sebuah kapal keruk yang termangu- mangu di pinggir sungai. Kapal itu hanya tinggal segunung besi rongsokan. Mesin besar nan digdaya, dulu selalu dikagumi anak- anak Melayu. Ketika meskapai Timah masih berjaya, jumlahnya puluhan. Mereka mengepung kampung, menderu siang dan malam, mengorek isi bumi untuk meraup timah. Kini satu- satunya yang tertinggal, tempatku melamunkan nasib ini, teronggok seperti fosil dinosaurus.
            Kapal keruk pernah menjadi pendendang irama hidup kami, bagian penting dalam budaya kami. Karena semua lelaki angkatan kerja bekerja bergantian selama 24 jam. Takkan pernah kulupa, setiap pukul dua pagi, truk pengangkut buruh kapal keruk menjemput ayahku. Kudengar suara klakson. Ayah keluar rumah pagi buta itu sambil menenteng rantang bekal makanan dari ibu.
            Jika melihatku terbangun, ayah kembali untuk mengusap rambutku dan tersenyum. Dari dalam rumah kudengar ayah mengucapkan salam pada kawan- kawan kerjanya yang telah berdesakkan di dalam bak truk. Kawan- kawan kerjanya itu adalah ayah dari kawan- kawanku. Lalu kudengar gemerincing besi saling beradu, kemudian truk menggerung meninggalkan rumah.
            Sering aku minta dibangunkan jika ayah berangkat kerja pukul dua pagi itu. Karena aku ingin melihat ayah dengan seragam mekaniknya yang penuh wibawa, yang ada taspen di sakunya, yang berbau sangat lelaki. Ayah melangkah tangkas sambil menyandang ransel berisi tang, ragum dan sekeluarga kunci inggris. Kunci- kunci baja putih itujika dibariskan akan membentuk suatu segitiga yang sangat hebat. Kubayangkan, tugas- tugas yang berat diemban oleh bapak kunci yang paling besar, dan tugas- tugas sepele adalah bagian anak- anaknya. Aku senang melihat ayah melompat ke dalam bak truk. Dia, pria yang gagah itu, adalah ayahku, begitu kata hatiku. Lalu aku tidur lagi, sambil tersenyum.
            Berlangsung seperti itu, hari demi hari, selama bertahun- tahun, tak berubah, sejak masa lampau zaman pendudukan Belanda. Setelah dewasa, jika secara tak sengaja aku terbangun pukul dua pagi, di negeri mana pun aku berada, seakan kudengar suara klakson mobil truk, lalu menguar suara orang- orang mengucapkan salamdan gemerincing besi saling beradu. Aku termangu. Kerinduan pada ayah menjadi tak tertanggungkan. Tanpa kusadari air mataku mengalir, mengalir sendiri, tak mampu kutahan.

Mozaik  4
Gamang
JENAZAH ZAMZAMI digotong pulang dari ladang tambang. Setelah berunding singkat, diutuslah Sirun untuk menjemput Enong ke sekolahnya. Bu Nizam tengah mengajar bahasa Inggris ketika Sirun tiba. Ia terkejut mendengar berita buruk yang dibawa oleh Sirun.
Sirun sedih melihat Enong yang tengah menekuri bukunya dengan tekun. Ia mendekatinya. Seisi kelas memperhatikannya. Ia mencoba menahan perasaannya ketika mengajak Enong pulang. Enong bertanya mengapa diajak pulang. Sirun tak tega menyampaikan apa yang telah terjadi.
“Nanti saja, sampai di rumah, kau akan tahu.” Enong bergeming. Ia tak mau pulang. Katanya, ia sedang belajar dan ia senang pelajaran bahasa Inggris. Sirun mendesaknya berkali- kali. Ia beranggapan tak baik mengabarkan petaka yang menimpa keluarga anak kecil itu di depan teman- temannya.
            “ Harus ada alasa, Pak Cik,” ujar Enong dengan jenaka.
“Harus ada alasan jika seseorang meninggalkan pelajaran, dan alasan itu harus kuat.” Pendapat itu disambut riuh teman- temannya. Apalagi, katanya, ia baru dibelikan ayahnya kamus. Ia kemudian mengatakan tentang menariknya pelajaran bahasa Inggris yang tengah diajarkan Bu Nizam.
            “Pelajaran tentang anggota keluarga, Pak Cik,”ia memberi contoh.
“Mother artinya ibu, father- ayah, daugther – anak perempuan, son- anak laki-laki.” Kawan- kawannya tertawa melihatnya menjelaskan pelajaran bahasa Inggris kepada seorang kuli tambang. Bu Nizam tersenyum getir melihat semangat Enong dan mendengar pengucapannya yang kaku. Sirun membujuknya lagi. Enong tak mau. Ia berkata minta alasan. Sirun tak punya pilihan lain.
            “Kau harus pulang, Nong, Ayahmu meninggal.”
            Enong yang sedang ingin mengucapkan sesuatu tersentak.
Seisi kelas diam. Senyap, wajah Enong pucat. Ia menatap Sirun.
            “Iya, Nong, pukul tiga tadi.”
Mata Enong mendadak merah.
“Pak Cik pasti salah. Aku baru dibelikan Ayah kamus bahasa Inggris. Sebentar lagi aku dijemput ayah,” suaranya bergetar- getar. Ia menatap Bu Nozam, minta dibela.
            “Benarkah ini?”
            “Benar, Nong, kecelakaan di tambang.”
Mata Enong berkaca- kaca, lalu ia terisak- isak. Ibu Nizam tampak sedih.
            “Pulanglah, Nong,” katanya.
Enong menangis. Air matanya berjatuhan di halaman kamusnya.

Ø
Dari kejauhan, Enong melihat orang berduyun- duyun melayat dengan membawa rantang berisi beras. Di dalam rumah, jenazah ayahnya terbujur. Enong memeluk ibunya. Ia tak bisa lagi menangis.
            Usungan jenazah dipikul ke pemakaman. Di antara para pelayat menguap kabar tentang makin banyaknya tambang menelan korban. Timah terbaik yang mengalir di permukaan bumi yang dangkal dan mudah ditambang telah dijarah Belanda selama ratusan tahun. Yang tersisa timah yang masih baik, namun lebih dalam, telah pula diraup oleh kapal- kapal keruk maskapai timah selama berpuluh tahun. Sisa dari yang tersisa, hanyalah timah buruk yang terlipat amat dalam di bawah tanah. Bulir demi bulir timah itu ditambang penduduk asli dengan pacul, didulang dengan tangan, dan dengan satu sikap dipaksa  rela oleh kemiskinan untuk terkubur hidup- hidup. Berkubang berminggu- minggu hingga tak jarang hanya menghasilkan beberapa ribu rupiah. Di dalam tanah yang gelap itulah Zamzami menemui ajal.
            Pulang dari pemakaman, Enong merasa heran mengapa banyak irang memandanginya. Maghrib menjelang Syalimah mengantar pelayat terakhir ke pekarangan. Anak- beranak itu memandangi jalanan kosong kerikil merah yang sekarang tampak seakan  tak berujung. Mereka saling merapatkan diri demi mengumpu- ngumpulkan keberanian untuk menghadapi hari- hari esok, yang tak terbayangkan kerasnya.
            Subuh esoknya, Syalimah lekas- lekas bangun demi mendengar suara panggilan azan. Ia ke dapur dan menanggar air. Ketika meniupkan siang  untuk menghidupkan kayu bakar, ia tersentak karena sebuah kesenyapan. Ia baru sadar, untuk siapa ia menyeduh kopi ? ia bangkit dan beranjak menjauhi tungku tanpa merasakan kakinya menginjak lantai. Suara suaminya mengaji Alqur’an saban shubuh telah menemaninya menghidupkan api dapur berbelas tahun. Syalimah duduk termangu, berkali- kali mengusap air matanya.
Ø
Secara mendadak kehilangan tiang penopang, keluarga Syalimah langsung limbung. Tak punya modal, tak punya keahlian, dan tak ada keluarga lain dapat diminta bantuan— karena semuanya miskin— membuat keluarga itu mati kutu. Tak pernah terpikir nasib sepedih itu akan menimpa mereka secara sangat tiba- tiba. Sang suami adalah tulang punggung keluarga satu-satunya dan hal itu baru disadari sepenuhnya setelah ia tiada.
            Sedangkan Enong, bermalam- malam tak bisa tidur. Ia gamang memikirkan apa yang selalu dikatakan orang tentang anak tertua. Namun, ia bahkan tak sepenuhnya paham makna tanggung jawab.  Ia takut membayangkan akibat dari kata itu. Apakah ia harus bekerja? bagaimana ia akan menghidupi keluarga, seorang ibu, dan tiga orang adik? Apakah harus berhenti sekolah? Ia amat mencintai sekolah. Ia bingung karena masih terlalu kecil untuk membenturkan diri dengan perkara seberat itu. Sekarang ia paham mengapa waktu itu banyak pelayat memandanginya.
            Belum sebulan ditinggal suami, Syalimah  telah kehabisan beras. Bahkan, beras yang diantar orang ketika melayat itu pun telah habis. Ia mulai meminjam beras dari tetangga demi menyambung hidup hari demi hari. Enong tahu bahwa beberapa anak perempuan tetangga sesama keluarga pendulang telah berangkat ke Tanjong Pandan untuk bekerja sebagai penjaga toko, tukang cuci di rumah orang kaya, atau buruh pabrik. Ia berusaha meyakinkan ibunya bahwa ia bisa bekerja seperti itu. Apa susahnya menjadi penjaga toko? Katany.
            Syalimah semula menolak. Berat baginya melepas Enong dari sekolah dan harus bekerja jauh dari rumah. Anak itu baru kelas enam SD. Tapi, ia akhirnya luluh karena Enong mengatakan tak bisa menerima jika adik- adiknya berhenti sekolah karena biaya. Ia sendiri rela mengorbankan sekolahnya. Ini adalah keputusa paling pahit bagi Syalimah. Putriny tak pernah sekalipun meninggalkan kampung, kini harus berjuang menghadapi hidup yang keras di kota. Ia sendiri tak mampu berbuat apa- apa karena tak bisa mengalihkan perhatian dari tiga anak lainnya.


Mozaik  5
Rahasia 23 Oktober
DIAM- DIAM sejak masih kecil dulu, telah kutandai, kalau hujan pertama musim hujan turun pas pada pada 23 Oktober, dan sore, pasti kampungku akan tampak lebih memesona. Jika sebelum dan sesudah hari itu, alam kacau- balau macam tak bertuan. Hujan tumpah sembarang waktu, sering menjadi badai dan banjir, kadang ia turun shubuh- shubuh, merepotkan orang yang ingin ke mesjid, sekolah, pasar, dan kantor. Singkat pula waktunya atau terlalu lama, sampai Mei tahun muka.
            Kalau ia pertama kali turun pada tanggal 23 Oktober, nah ia akan mengguyur dengan teratur, usai ashar biasanya, lembut, berkawan, adakalany syahdu. Karena itu, banyak orang kawin pada bulan Oktober. Delima, angsana, kemang, dan kecapi akan memucuk bersamaan, jamur tiong yang indah dan dapat dimakan akan subur. Bunga bakung akan bersemi lebih awal sampai sempat dua kali berbuah sepanjang musim hujan itu. Akibatnya, burung punai akan makin besar rombongan migrasinya. Gelap awan selatan dibuatnya.
            Tengah hari yang panas aan diusir awan kelabu yang dikirim angin dari barat. Satu masa ajaib yang singkat, meruap. Semua orang mendadak riang tanpa dapat dijelaskan mengapa. Sambil bersenda gurau, perempuan- perempuan Mengangkat jemuran pakaian yang hampir kering, lalu memekik rara riri, krat krut krut krut memanggil pulang ayam dan entok- entoknya. Lelaki tergopoh- gopoh meneduhi sepeda dan jemuran batu baterai. Pada momen emas itu, kami melompat dari rumah panggung, menghambur ke pekarangan mesjid Al- Hikmah, bertengkar- tengkar kecil di bawah menara mesjid soal rencan asyik untuk hujan sore yang segera tumpah. Guruh halus menggoda- goda.
            Hujan akan berhenti tak sampai matahari terbenam. Kami beramai- ramai berlari ke tali air. Di bantaran danau, kami duduk saling berpeluk pundak, memandangi anak- anak belibis berenang berbaris- baris dan lingkar terang pelangi. Saban sore, selama musim hujan, seseorang memindahkan surga dari langit ke kampung kami.
            Lalu, langit dikuasai berkawan- kawan burung punai yang memimpin kafilahnya, beribu- ribu jumlahnya, sampai gelap langit dibuatnya. Skuadron berwarna hijau itu melesat di atas danau tali air. Mereka tak peduli pada kami, bahkan mereka tak peduli pada kecantikan mereka sendiri, yang selalu kami kagumi sejak kami diizinkan orang tua bermain di pinggir danau itu. Yang ada di dalam kepala mereka hanya hamparan bakung yang ranum di nun hulu sungai dan bagaimana beradu cepat dengan kawanan lainnya agar tak kehabisan buah bakung. Punai- punai itu menyihir kami sampai mulut- mulut kecil kami ternganga. Mereka bak lukisan beterbangan di angkasa. Sang raja punai terbang paling muka. Jika menukik sedikit saja, ribuan punai di belakangnya serentak menukik. Jika ia berbelok, semuany berbelok. Sesekali ia bermanuver ke puncak- puncak pohon kenari yang ada di pekarangan rumah di kampung. Tapi sebentar saja, lalu sang raja mengepakkan sayapnya, dan terangkatlah ke udara permadani hijau itu. Hebat sekali raja punai itu. Dialah penguasa langit.
            Awal Februari, secara misterius hujan beranjak ke malam hari. Ia mengunjungi kampung setiap malam dan baru benar- benar lenyap pada akhir Maret. Sebuah musim hujan yang sempurna pun sirna. Ia mohon diri lewat rintik- rintik lembut di ujung musim, lalu bersama kawannya sang guruh yang gagah perkasa itu, mereka pergi tak tahu ke mana.
            Demikian teoriku tentang hujan pertama pada 23 Oktober. Teori yang konyol tentu saja sehingga tak pernah kukisahkan kepada siapa pun. Ia telah menjadi rahasiaku yang terpendam lama sejak aku kecil dulu.
            Lambat laun, teori itu berubah menjadi semacam godaan. Aku sering meyakinkan diriku sendiri, bahkan memaksa untuk memercayai sesuatu yang dibangun di atas logika yang aneh. Aku, alam, dan hujan pertama, telah membentuk semacam persengkokolan, yang begitu ganjilnya sehingga di dunia ini, hanya aku yang boleh tahu. Aku malah sering merahasiakannya, dari diriku sendiri.
            Namun, bukankah adakalanya, menyerahkan diri pada godaan dan memelihara rahasia, menjadi bagiandari indahnya menjalani hidup ini? Lagi pula aku yakin, suatu hari nanti, seorang cerdik cendekia, yang memahami ilmu hujan, akan menjelaskan padaku soal itu.


Sumber : Novel Dwilogi Padang Bulan
Karya : Andrea Hirata







































































































Minggu, 27 Maret 2011

Sabtu, 26 Maret 2011



Mozaik 1
Lelaki Penyayang

Syalimah Gembira karena suaminya mengatakan akan memberinya hadiah  kejutan. Syalimah tak tahan.
            “aih, janganlah bersenda gurau, Pak Cik. Kita ini orang miskin. Orang miskin tak kenal kejutan.
            Mereka tersenyum.
            “kejutan- kejutan begitu, kebiasaan orang kaya. Orang macam kita, ni ? Saban hari terkejut. Datanglah ke pasar kalau pak cik tak percaya.”
            Suaminya- Zamzami – tahu benar maksud istrinya. Harga- harga selalu membuat mereka terperanjat.
            “telah lama kau minta,” kata suaminya dengan lembut.
            Syalimah kian ingin tahu. Waktu mengantar suaminya ke pekarangan dan menyampirkan bungkus rantang bekal makanan di setang sepeda, ia bertanya lagi, Zamzami tetap tak menjawab.
            “sudah bertahun- tahun kau inginkan, baru bisa kubelikan sekarang, maaf.”
            Zamzami meninggalkan pekarangan, namun kembali. Ia mengatakan ingin mengajak Syalimah melihat- lihat bendungan.
            “apa Yahnong takkan bekerja?”
            Yahnong, singkatan untuk ayah bagi anak tertua mereka, Enong. Kebiasaan orang Melayu menyatakan sayang pada anak tertua dengan menggabungkan nama ayah dan nama anak tertua itu.
            “sudah lama aku tak memboncengmu naik sepeda”
            Bendungan itu tak jauh dari rumah mereka. Dulu dipakai Belanda untuk membendung aliran anak- anak Sungai Linggang agar kapal keruk dapat beroperasi. Sampai disana mereka hanya diam memandangi permukaan danau yang tenang. Tak bicara, seperti mereka dulu sering bertemu di sini.
            Mereka pulang. Zamzami berangkat kerja. Syalimah tak memikirkan soal kejutan itu. Ia bahkan lupa pernah meminta apa pada suaminya. Delapan belas tahun mereka telah berumah tangga, baru kali ini suaminya akan memberi kejutan. Semua hal, dalam keluarga mereka yang sederhana, amat gampang diduga. Penghasilan beberapa ribu rupiah mendulang timah, cukup untuk membeli beras beberapa kilogram, untuk menyambung hidup beberapa hari. Semuany difahami Syalimah di luar kepala. Tak ada rahasia, tak ada yang tak biasa, dan tak ada harapan muluk- muluk. Tahu- tahu, macam bakung berbunga di musim kemarau, suaminya ingin memberinya kejutan.
            Syalimah dan Zamzami berjumpa waktu pengajian ketika mereka masih remaja. Zamzami yang pemalu, begitu pula Syalimah, menyimpan rasa suka diam- diam. Zamzami tak pernah berani mengatakan maksud hatinya, dan Syalimah takut menempatkan dirinya pada suatu keadaan sehingga lelaki lugu itu dapat mendekatinya.
            Namun, lirikan curi- curi di tengah keramaian itu kian hari kian tak tertahankan. Zamzami mengurangi kecepatannya menambah juz mengaji, padahal ia membaca Alqur’an lebih baik daripada ia membaca huruf latin. Tujuannya agar semakin lama berada dalam kelas yang sama dengan Syalimah. Berulang kali ditanyakannya pada ustaz hal- hal yang ia sudah tahu. Dibentak bebal ia tersenyum sambil menunduk. Sedangkan Syalimah, berpura-pura bodoh membaca tajwid, dimarahi ustaz, biarlah. Maksudnya serupa dengan maksud Zamzami. Semua taktik yang merugikan diri sendiri itu, jika boleh disebut cinta, itulah cinta.
            Sungguh indah, atas saran ustaz- lantaran mencium gelagat yang tak beres antara dua murid mengaji yang tak tahu cara mengungkapkan cinta itu- mereka malah dijodohkan orangtua masing- masing.
            Sejak mengenal Zamzami, Syalimah tahu ia akan bahagia hidup bersama lelaki itu, meski, ia juga mafhum, ada satu hal yang harus ia hindari : minta dibelikan apapun sebab lelaki baik hati yang dicintainya itu hanyalah lelaki miskin yang berasal dari keluarga pendulang timah. Namun Syalimah tak perlu dibelikan harta benda sebab Zamzami adalah harta yang paling berharga, melebihi segalanya. Lelaki itu amat penyayang pada keluarga sehingga Syalimah tak memerlukan harta apapun lagi di dunia ini.
            Menjelang tengah hari, sebuah mobil pikap berhenti di depan rumah. Dua lelaki mengangkat benda yang dibungkus terpal dari bak mobil itu dan membawanya masuk ke dalam rumah. Syalimah bertanya- tanya mereka tak mau menjawab.
            “malam ini ada pasar malam di Manggar, Mak Cik.” Kata salah satu lelaki itu sambil tersenyum.
            Syalimah memandangi benda itu dengan gugup, tapi gembira. Pasti benda itu yang dimaksud suaminya dengan ­kejutan. Rupanya sungguh luar biasa pengaruh sebuah kejutan. Kucing- kucingnya yang lucu melingkari benda itu, menggodanya untuk mendekat. Syalimah melangkah maju, namun di tengah jalan, ia ragu. Ia kembali ke ambang pintu.
            Syalimah menertawakan kelakuannya sendiri karena keranjingan menikmati sensasi sebuah kejutan. Lalu, ia berpikir, kejutan itu tak sanggup ia atasi dan terlalu indah untuk dinikmati sendiri. Ia akan menunggu Enong, putri tertuanya itu, pulang dari sekolah. Mereka akan menikmati kejutan itu berdua. Tentu akan sangat menyenangkan.
            Namun, Syalimah tak tahan untuk segera tahu apa yang dibelikan suaminta untuknya, sedangkan Enong baru akan pulang sore nanti. Sesekali ia melongok ke arah benda yang misterius itu. Ia memberanikan diri dan melangkah pelan mendekatinya. Di depan benda itu jantungnya berdebar- debar. Ia memejamkan mata dan menarik terpal. Ia membuka matanya dan terkejut tak kepalang melihat sesuatu berkilauan : sepeda Sim King made in RRC!
            Syalimah terhenyak. Ia tak menyangka sepeda itu dihadiahkan Zamzami untuknya sebagai kejutan. Bukan hanya karena sepeda itu akan menjadi benda paling mahal di rumah mereka, melainkan karena ia memintanya hampir empat tahun silam. Itupun sesungguhnya bukan meminta. Waktu mengandung anak bungsunya, ia berkisah pada Zamzami, betapa dulu ia bahagia sering dibonceng almarhum ayahnya naik sepeda ke pasar malam, dan disana dibelikan balon gas.
            “Kalau anak ini lahir,” kata Syalimah bercanda. ”Sepeda itu tak cukup lagi untuk membonceng anak- anak ke pasar malam.” Karena anak mereka akan menjadi empat, sedangkan mereka hanya punya dua sepeda reyot.
            Syalimah tak dapat menahan air matanya. Ia terharu mengenang suaminya telah menyimpan percakapan itu selama bertahun- tahun dan memegannya sebagai sebuah permintaan. Betapa baik hati lelaki itu. Lalu, Syalimah terisak begitu teringat bahwa hari itu Sabtu dan malam nanti ada pasar malam di Manggar. Kini ia paham maksud lelaki yang mengantarkan sepeda itu. Suaminya pasti merencanakan berangkat sekeluarga naik sepeda ke pasar malam, seperti dulu ayah Syalimah selalu memboncengnya naik sepeda ke pasar malam.
            Selanjutnya, Syalimah hilir mudik di dapur menghitung bagaimana membagi anak- anaknya pada tiga sepeda. Sang ayah, satu- satunya lelaki di dalam keluarga, berarti yang paling kuat, akan membeonceng keranjang pempang dan di dalamnya akan dimasukkan si nomor dua, gadis kecil yang bongsor itu.
            Si nomor tiga, yang cerewet, akan dibonceng oleh kakaknya, Enong, dan si bungsu akan dibonceng Ibu, naik sepeda baru Sim King made in RRC, hadiah kejutan itu. Tak terperikan bahagianya perjalanan ke pasar malam nanti. Meski telah menetapkan pengaturan pembagian sepeda, Syalimah berulang kali menghitungnya di dalam hati, karena perhitungan itu menimbulkan perasaan indah dalam hatinya.
            Kemudian Syalimah tak sabar menunggu suaminya pulang. Ia berdiri di ambang jendela, tak lepas memandangi langit yang mendung dan ujung jalan yang kosong ia ingin segera melihat suaminya berbelok di pertigaan di ujung jalan sana, pulang menuju rumah. Ia akan menyongsongnya di pekarangan dan mengatakan betapa indahnya sebuah kejutan. Ia mau mengatakan pula bahwa mulai saat itu mereka harus lebih sering memberi kejutan karena kejutan ternyata indah.
            Syalimah gembira melihat seseorang bersepeda dengan cepat. Jika orang itu-Sirun- telah pulang, pasti suaminya segera pula pulang. Namun, sirun berbelok menuju rumah Syalimah dengan tergesa- gesa. Buruh kasar itu langsung masuk dan dengan gemetar mengatakan telah terjadi kecelakaan. Zamzami tertimbun tanah. Syalimah terpaku di tempatnya berdiri. Napasnya tercekat. Ia tak bisa berbuat apa- apa. Sirun memintanya menitipkan anak- anaknya kepada tetangga dan mengajaknya ikut ke tambang.
            Sampai disana, Syalimah melihat orang berteriak- teriak panik dan menggunakan alat apa saja untuk menggali tanah yang menimbun Zamzami. Para penambang yang tak punya cangkul menggali dengan tangannya, secepat- cepatnya. Syalimah berlari dan bergabung dengan mereka. Ia menggali tanah dengan tangannya sambil tersedak- sedak memanggil suaminya. Keadaan menjadi semakin sulit karena hujan turun. Tanah yang sedang menimbun Zamzami berubah menjadi lumpur. Para penambang berebut dengan waktu. Jika terlambat Zamzami pasti tak tertolongdan Zamzami mulai memasuki saat- saat tak tertolong itu. Syalimah menggali seperti orang lupa diri sambil menangis, sampai berdarah ujung- ujung jarinya. Ia berdoa agar Zamzami tertimbun dalam keadaan tertelungkup. Penambang yang tertimbun dalam keadaan tertentang tak pernah dapat diselamatkan. Galian semakin dalam, Zamzami belum tampak juga. Tiba- tiba Syalimah melihat sesuatu. Ia menjerit.
            “ini tangannya!  ini tangannya!”
            Orang- orang menghambur ke arah tangan itu. Syalimah gemetar karena tangan yang menjulur itu terbuka. Suaminya telah tertimbun dalam keadaan telentang. Para penambang cepat- cepat menarik Zamzami. Ketika berhasil ditarik, lelaki kurus itu tampak seperti tak bertulang. Tubuhnya telah patah. Pakaiannya compang- camping menyedihkan. Zamzami diam tak bergerak. Semuany telah terlambat.
            Syalimah tersedu- sedan. Ia bersimpuh di samping Zamzami yang telah mati. Ia mengangkat kepala suaminya ke atas pangkuannya. Kepala itu terkulai seperti ingin bersandar. Syalimah membasuh wajah Zamzami dengan air hujan, lalu tampak seraut wajah yang pias dan sepasang mata yang lugu. Syalimah mendekap lelaki penyayang itu kuat-kuat. Ia meratap- ratap memanggil- manggil suaminya.


Mozaik  2
Bahasa Inggris

SELAIN MENGGABUNGKAN nama ayah dan nama anak tertua, orang melayu udik biasa menamai anak dengan bunyi senada seirama. Jika nama anak tertua Murad, misalnya, tujuh orang adik di bawahnya Munzir, Muntaha, Munawaroh, Mun’im, dan Munmun. Lantaran anak sangat banyak, hal itu kerap menimbulkan kekacauan. Seringkali nama- nama itu tertukar. Dalam keadaan panik, umpama, salah satu anak menyiramkan minyak tanah pada kambing yang akan dikurbankan pada hari raya Idul Adha, dalam rangka membuat obor- ini berdasarkan pengalaman pribadiku- ibunya hanya bisa berteriak- teriak histeris, “Mun! Mun! Mun!” sambil berpikir keras mengingat- ingat Mun yang mana yang berkelakuan macam setan itu.
            Ajaibnya budaya. Selidik punya selidik, ternyata hubungan awal nama anak tak sering ada hubungannya dengan huruf awal nama ayah-ibunya. Artinya, huruf awal itu dipilih secara random saja sesuai suasana hati. Maka dapat disimpulkan, bagi orang Melayu kampung, kekacauan itu disengaja dan merupakan bagian dari seni punya anak banyak, serta merupakan bagian dari kasih sayang nan tak terperikan pada anak- anak yang berderet-deret macam pagar itu.
            Lalu, ada pula kebiasaan yang unik. Anak muda sering dipanggil Boi. Ini tak ada hubungannya dengan Boydalam bahasa Inggris sebab anak perempuan pun sering dipanggil Boi . Namun,  Enong adalah kisah yang berbeda. Enong adalah panggilan sayang untuk anak perempuan. Begitulah cara Zamzami memanggil anak tertuanya.
            Enong duduk di kelas enam SD dan merupakan siswa yang cerda. Sejak kelas satu, ia selalu menjadi juara kelas. Pelajaran pavoritnya adalah bahasa Inggris dan cita- citany ingin menjadi guru seperti Bu Nizam.
            Ibu Nizam, guru senior dari Pematang Siantar. Puluhan tahun lampau, ia ditempatkan pemerintah untuk mengajar di kampung kami. Ia sangat dihormati karena keberaniannya merantau demikian jauh dalam usia yang sangat muda, demi pendidikan. Dialah guru bahasa Inggris pertama di kampung kami.
            Zamzami amat bangga dengan cita- cita Enong. Ia Enong mendapat kesempatan pendidikan setinggi- tingginya. Sekolah Enong adalah nomor satu baginya. Selelah apapun bekerja, ia tak pernah lupa menjemput Enong. Sering Zamzami bercerita pada Sirun.
            “Run, dapatkah kau bayangkan, anakku mau menjadi guru sebuah bahasa dari Barat?”
            Sirun takjub
            “kita ini, Run, bahasa Indonesia pun tak lancar.”
            “Bahasa dari Barat? Bukan main, Bang, bukan main.”
            Kemungkinan menjadi gurudari sebuah bahasa yang asing dari Barat itu pula yang membuat Zamzami tak pernah mengeluh meski harus bekerja membanting tulang seperti kuda beban. Ia berusaha memenuhi apa pun yang diperlukan Enong untuk cita- cita hebatnya itu.
            Zamzami sering mendengar Enong berbicara soal kamus bahasa Inggris. Dari nada suaranya, ia tahu putrinya ingin sekali punya kamus. Sebaliknya, meskipun masih kecil, Enong paham ayahnya miskin. Ia tak pernah minta dibelikan kamus, tak pernah minta dibelikan apapun.
            Zamzami sendiri pernah melihat kamus yang hebat di pedagang buku bekas kaki lima Tanjung Pandan. Kamus itu adalah Kamus Satu Miliar kata. Sejak melihat kamus itu dan mengenang keingingan putrinya, membeli kamus telah menjadi impian Zamzami dari hari ke hari. Ia bekerja lebih keras di ladang tambang dan menambah penghasilan dengan berjualan air nira setiap ada pertunjukkan orkes Melayu. Hari Sabtu ia ke laut mencari kerang untuk dijual di pasar ikan. Hari minggu ia berjualan tebu yang ditusuk dengan lidi. Setelah berbulan- bulan seperti itu dan memfokuskan pikirannya hanya untuk membeli kamus bahasa Inggris untuk anaknya, akhirnya Zamzami punya uang lebih. Dengan gembira ia sampaikan kepada putrinya.
            “mulai sekarang, jangan cemas lagi, Nong, Ayah akan belikan kamus untukmu. Kamus Bahasa Inggris Satu Miliar Kata!”
            Enong terbelalak.
            “sati miliar?” napas tertahan.
            “iya, Nong, tak kurang dari satu miliar kata!”
            Enong tertegun. Wajahnya pucat pasi. Ia terpana karena akan segera punya kamus dan karena kamus itu berisi satu miliar kata! Lalu, ia saling menyentuh ujung- ujung jarinya dan mulutnya komat- kamit menghitung jumlah nol dalam satu miliar.
            “satu miliar itu banyak sekali, Nong. Ayah pun tak tahu berapa jumlah nolnya. Tujuh belas barangkali”
            Enong masih tetap tertegun. Mulutnya masih komat- kamit dan jarinya masih sibuk menghitung jumlah nol dalam angka satu miliar.
⻉
Esoknya, mata Enong merah. Zamzami tahu, anaknya pasti tak bisa tidur karena terus- menerus membayangkan kamus itu. Maka, tanpa ambil tempo, ia segera mengajak Sirun ke Tanjong Pandan. Mereka bersepeda hampir seratus kilometer.
            Senangnya Zamzami mendapati kamus yang dilihatnya dulu masih ada di pedagang kaki lima buku bekas. Terbayang sinar mata anaknya saat menerima kamus itu. Ia menimang- nimangnya dan terkagum- kagum pada tulisan disampulnya Kamus Bahasa inggris Satu Miliar 1.000.000.000 Kata. Diikutinya pelan- pelan jumlah nol itu. Baru ia tahu bahwa jumlah nol dalam satu miliar ada sembilan.
            Zamzami sempat heran melihat kamus itu ternyata ringan dan tipis saja. Padahal,, isinya satu miliar kata. Jiwanya yang lugu berkata, mungkin yang dimaksud pengarang buku itu bukan kata, tapi huruf. Pengarangnya mungkin salah tulis, seharusnya satu miliar huruf. Tapi, andaikata jumlah huruf pun masih tetaplah buku itu terlalu tipis. Sekali lagi hatinya yang putih tetap saja membela penyusun kamus itu, Drs. Ir. Siapa, M.B.A., B.A., yang sama sekali tak dikenalnya.
            “kurasa buku ini macam buku Kho Phing Hoo, Run,”katanya pada Sirun.
            “ini pasti baru jilid satu. Nanti kalau sudah lengkap empat puluh delapan jilid, barulah jumlah katanya tergapai satu miliar. Macam mana pendapatmu, Run?”
            “kemungkinan besar, Bang.”
            Jika menyangkut buku, Sirun serupa tikus mendengar pembicaraan ayam. Gelap, soal begitu, ia akan percaya pada apa pun yang dikatakan oleh siapa pun sebab ia tak pernah sekolah.
            “tak apalah, berarti aku masih harus menabung. Bukan begitu, Run?”
            Zamzami malah senang karena akan memiliki 48 jilid kamus. Baginya, kamus- kamus itu dapat menjadi koleksi yang berharga. Mungkin pula ia berpikir, semakin banyak ia dapat membelikannya anaknya kamus, semakin anaknya akan senang. Ia juga kagum pada orang yang mampu membuat kamus. Ia menatap gelar deretean gelar sarjana Drs. Siapa yang menyusun kamus itu sambil membayangkan anaknya menjadi guru bahasa Inggris.
            “Enong bisa menjadi guru bahasa Inggris yang baik dengan kamus ini, Run.”
            Sirun mengangguk- angguk dengan Khidmat.
            “kemungkinan besar, Bang.”
            Pedagang buku bekas kaki lima tertarik melihat semangat Zamzami, yang tampak seperti baru menemukan benda ajaib. Ia bertanya, mengapa begitu riang?
            “Buku ini untuk anakku, Pak Cik.”
            “berarti hadiah untuk anak. Biar lebih berkesan, orang di kota biasa menulis sesuatu di halaman muka. Tanda tangan, ucapan salam, ucapan selamat ulang tahun, atau apa saja.”
            “begitukah?”
            “anak perempuankah?”
            “Iya, Pak Cik, sudah kelas enam.”
            “Elok kalau disampuli pakai kertas kado yang cantik. Anak perempuan akan senang hatinya.”
            Mata Zamzami berbinar- binar. Ia pergi sebentar, lalu kembali mebawa kertas kado dan menyampulinya di depan pedagang kaki lima itu. Kemudian, dia minta diajaei cara menulis ucapan di halaman muka itu. Setelah berunding cukup lama, ia menemukan kalimat yang ingin ditulisnya. Ia mengukirnya dengan pena, kata demi kata.
            Sementara itu, Enong hilir mudik di beranda menunggu ayahnya kembali dari Tanjong Pandan. Seharian ia tak enak makan karena piirannya tak dapat lepas dari Kamus Satu Miliar Kata itu. Ketika ayahnya tiba, ia menyongsongnya di pekarangan. Ia melonjak- lonjak senang menerima kamus itu.
            “ini baru jilid satu, Nong. Nanti kalau ada sambungannya Ayah beli lagi,” kata ayahnya sambil menyeka keringat.
            Zamzami pun gembira karena pendapat pedagang buku bekas kaki lima itu semuanya benar. Enong berulang kali memuji indahnya sampul kamus itu. Zamzami mengatakan bahwa ia sendiri yang memilih kertas sampul itu dan ada tulisan untuk Enong di halaman muka. Enong membukanya dan menemukan tulisan itu. Ia membacanya
            Buku ini untuk anakku, Enong.
            Kamus satu miliar kata.
            Cukuplah untuk bisa menjadi guru bahasa Inggris
Seperti Ibu Nizam.
Kejarlah cita- citamu, jangan menyerah, semoga sukses.
Tertanda
Ayahmu
           
            Enong terdiam, lalu ia menangis untuk sebuah alasan yang ia tidak mengerti.

Sumber : Novel Dwilogi Padang Bulan (Karya Andrea Hirata)

Rabu, 23 Maret 2011