Kamis, 24 Maret 2011

I. Sinopsis Novel Siti Nurbaya
Dengan maksud yang licik Datuk Maringgih meminjamkan uangnya pada Baginda Sulaiman. Berkat pinjangan uang dari Datuk Maringgih tersebut, usaha dagang Baginda maju pesat. Namun sayang, rupanya Datuk Maringgih menjadi iri hati melihat kemajuan dagang yang dicapai oleh Baginda Sulaiman ini, maka dengan seluruh orang suruhanya, yaitu pendekar lima, pendekar empat serta pendekar tiga, serta yanglainnya Datuk Maringgih memerintahkan untuk membakar toko Baginda Sulaiman. Dan toko Bagindapun habis terbakar. Akibatnya Baginda Sulaiman jauh bangrut dan sekligus dengan hutang yang menunpukpadaDatukMaringgih.

Di tengah-tengah musibah tersebut, Datuk Maringgih menagih hutangnya kepadanya. Jlas, tentu saja Baginda Sulaiman tidak mempu membayarnya. Hal ini memang sengaja oelh datuk Maringgih, sebab dia sudah tahu pasti bahwa Baginda Sulaiman tidak mampu membayarnya. Dengan alasan hutang tersebut, Datuk Maringgih langsung menawarkan bagaimana kalau Siti Nurbaya, Putri Baginda Sulaiman dijadikan istri Datuk Maringgih. Kalau tawaran Datuk Maringgih ini diterima, maka hutangnya lunas. Dengan terpaksa dan berat hati, akhirnya Siti Nurbaya diserahkan untuk menjadi istri –Datuk Maringgih.

Waktu itu Samsulbahri, kekasih Siti Nurbaya sedang menuntut ilmu di Jakarta. Namun begitu, Samsul Bahri tahu bahwa kekasihnya diperistri oleh orang lain. Hal tersebut dia ketahui dari surat yang dikirim oleh Siti Nurbaya kepadanya. Dia sangat terpukul oleh kenyataan itu. Cintanya yang menggebu-gebu padanya kandas sudah. Dan begitupun dengan Siti Nurbaya sendiri, hatinya pun begitu hancur pula, kasihnya yang begitu dalam pada Samsulbahri kandas sudah akibat petaka yang menimpa keluarganya.

Tidak lama kemudian, ayah Siti Nurbaya jatuh sakit karena derita yangmenimpanya begitu beruntun. Dan, kebetulan itu Samsulbahri sedang berlibur, sehingga dia punya waktu untuk mengunjungi keluarganya di Padang. Di samping kepulangnya kekampung pada waktu liburan karena kangennya pada keluarga, namun sebenarnya dia juga sekaligus hendak mengunjungi Siti Nurbaya yang sangat dia rindukan.

Ketika Samsulbahri dan Siti Nurbaya sedang duduk di bawah pohon, tiba-tiba muncul Datuk Maringgih di depan mereka. Datuk Maringgih begitu marah melihat mereka berdua yang sedang duduk bersenda gurau itu, sehingga Datuk maringgih berusaha menganiaya Siti Nurbaya. Samsulbahri tidak mau membiarkan kekasihnya dianiaya, maka Datuk Maringgih dia pukul hingga terjerembab jatuh ketanah. Karena saking kaget dan takut, Siti Nurbaya berteriak-teriak keras hingga terdengar oleh ayahnya di rumah yang sedang sakit keras. Mendengar teriakan anak yang sangat dicinatianya itu, dia berusaha bangun, namun karena dia tidak kuat, ayah Siti Nurbaya kemudian jatuh terjerembab di lantai. Dan rupanya itu juga nyawa Baginda Sulaiman langsung melayang.

Karena kejadian itu, Siti Nurbaya oleh datuk Maringgih diusir, karena dianggap telah mencoreng nama baik keluarganya dan adat istiadat. Siti Nurbaya kembali ke kampunyanya danm tinggal bersama bibinya. Sementara Samsulbahri yang ada di Jakarta hatinya hancur dan penuh dendam kepada Datuk Maringgih yang telah merebut kekasihnya. Siti Nurbaya menyusul kekasihnya ke Jakarta, naumun di tengah perjalanan dia hampir meninggal dunia, ia terjatuh kelaut karena ada seseorang yang mendorongnya. Tetapi Siti Nurbaya diselamatkan oleh seseorang yang telah memegang bajunya hingga dia tidak jadi jatuh ke laut.

Rupanya, walaupun dia selamat dari marabahaya tersebut, tetapi marabahaya sberikutnye menunggunya di daratan. Setibanya di Jakarta, Siti Nurbaya ditangkap polisi, karena surat telegram Datuk Maringgih yang memfitnah Siti Nurbaya bahwa dia ke Jakarta telah membawa lari emasnya atau hartanya.

Samsulbahri berusaha keras meolong kekasihnya itu agar pihak pemerintah mengadili Siti Nirbaya di Jakarta saja, bukan di Padang seperti permintaan Datuk Maringgih. Namun usahanya sia-sia, pengadilan tetap akan dilaksanakan di Padang. Namun karena tidak terbukti Siti Nurbaya bersalah akhirnya dia bebas.

Beberapa waktu kemudian. Samsulbahri yang sudah naik pangkat menjadi letnan dikirim oleh pemerintah ke Padang untuk membrantas para pengacau yang ada di daerah Padang. Para pengacau itu rupanya salah satunya adalah Datuk Maringgih, maka terjadilah pertempuran sengit antara orang-orang Letnan Mas (gelar Samsulbahri) dengan orang-orang Datuk Maringgih. Letnan Mas berduel dengan Datuk Maringgih. Datuk Maringgih dihujani peluru oleh Lentan Mas, namun sebelum itu datuk Maringgih telah sempat melukai lentan Mas dengan pedangnya. Datuk Maringgih meninggal ditempat itu juga, sedangkan letan mas dirawat di rumah sakit.

Sewaktu di rumah sakit, sebelum dia meninggal dunia, dia minta agar dipertemukan dengan ayahnya untuk minta maaf atas segala kesalahannya. Ayah Samsulbahri juga sangat menyesal telah mengata-ngatai dia tempo dulu, yaitu ketika kejadian Samsulbahri memukul Datuk Maringgih dan mengacau keluarga orang yang sangat melanggar adat istiadat dan memalukan itu. Setelah berhasil betemu dengan ayahnya, Samsulbahripun meninggal dunia. Namun, sebelum meninggal dia minta kepada orangtuanya agar nanti di kuburkan di Gunung Padang dekat kekasihnya Siti Nurbaya. Perminataan itu dikabulkan oleh ayahnya, dia dikuburkan di Gunung Padang dekat dengan kuburan kekasihnya Siti Nurbaya. Dan di situlah kedua kekasih ini bertemu terakhir dan bersama untuk selama-lamanya.

II. Unsur-unsur Intrinsik Novel Siti Nurbaya
A. Tema
Tradisi kawin paksa

B. Tokoh
1. Siti Nurbaya
2. Samsul Bahri
3. Pak Ali
4. Datuk Maringgih
5. Bahtiar
6. Sutan Mahmud
7. Baginda Sulaiman
8. Siti Maryam

C. Latar
* Tempat : - Muka Sekolah Belanda Pasar Ambacang Di Padang
- Dalam Rumah
- Serambi Belakang Rumah
- Gedung Dapang
* Waktu : - Siang Hari Pukul 13.00 Wib.
- Sore Hari.
- Pagi Hari Pukul Lima Pagi.
- Ahad
D. Sudut Pandang : Orang ketiga
E. Gaya Bahasa : Melayu, Belanda, Padang.
F. Amanat :
- Orang Tua Jangan Terlalu Memaksa Keinginan Diri Terhadap Anak- Anaknya.
- Orang Tua Janan Terlal Memandang Orang Dengan Mukanya.
- Biarkan Anak Dapat Memilih Jodohnya Sendiri.
G. Alur : Maju mundur.

III. Bagian yang Menarik dari Novel Siti Nurbaya
Bab I
Pulang Dari Sekolah

“Oya Nur, tunggu sebentar,” kata si Sam.”Hampir lupa aku tadi, waktu keluar bermain-main, aku telah bermupakat dengan si Arifin dan si Bahtiar, akan pergi esok hari ke gunung Padang, bermain-main mencari jambu keling, bebab hari ahad sukakah engkau mengikut?”
”Tentu sekali Sam, ”Jawab si Nur dengan girang. ”Tetapi aku harus izin dahulu kepada ayahku. Jika dapat, nanti petang kukabarkan kepadamu.“

Bab II
Sutan Mahmud dengan Saudaranya yang Perempuan

Rukiah tunduk kembali kemalu-maluan, serta merah mukanya. Tatkala itu keluarlah seorang perempuan yang umurnya kira-kira 45 tahun, dari dalam bilik. Rupanya perempuan ini hapir seroman dengan Sutan Mahmud. Hanya badanya kurus sedikit. Pada air mukanya yang agak berlainan dengan wajah Sutan Mahmud, terbayang tabiatnya yang kurang baik, yaitu dengki dan bengis.
Tatkala dilihatnya Sutan Mahmud duduk diatas kursi lalu di tegurnya, engkau, Penghulu! Alangkah besar hatiku melihat engkau ada pula di rumah ini, karena telah sekian lama engkau tiada datang kemari. Hampir aku bersangka engkau telah lupa kepada kami. Karena dahulu setiap hari engkau datang kemari, makan dan minum di sini kadang-kadang tidur pula di sini. Akan tetapi sekarang ini, jangankan tidur di sini, menjaga kami datang melihat kami kemari sekali sejum’at pun tidak.
Rukiah tidak bersekoloah itu bukan salah hamba, melainkan salah kakanda sendiri. Sudah beberapa kali hamba meminta kepada kakanda, supaya anak itu disekolahkan, tetapi kakandalah yang tak suka, karena tak baik kata kakanda, anak perempuan pandai menulis dan membaca: suka menjadi jahat. Sekarang hamba disalahkan lagi pula hamba sekolahkan si Samsu bukan karena apa-apa, melainkan sebab pada pikiran hamba kewajiban bapaklah memajukan anaknya, kata Sutan Mahmud sambil merengut .
Untung saja anakku perempuan, tak banyak merugikan engkau. Akan tetapi walaupun ia laki-laki sekalipun, belum tentu ia akan kau sekolahkan. Karena orang tak bersekolah itu orang yang hina dan miskin, yang tak dapat makan, kalau tak ada kepandaian.
Memang adat dan kelakuanmu telah berubah benar, tiada lama lagi tentulah kau akan tukarkan pula ayahmu dengan agama nasrani,” kata Putri Rubiah.
Apakah yang telah diberikan istrimu itu kepadamu, tidakkah kau ketahui: hingga tidak tertinggalkan olehmu perempuan itu sebagai telah terikat kaki tanganmu olehnya. Sekalian penghulu di Padang ini beristri dua, tiga sampai empat orang. Hanya engkau sendirilah yang dari dahulu, hanya perempuan itu saja istrimu tidak berganti-ganti, tiada bertambah-tambah. Bukankah orang yang besar itu beristri banyak? Bukankah baik, orang berbangsa itu beristri berganti-ganti supaya kembang keturunannya? Bukankah hina, jika ia beristrikan satu saja? Sedangkan orang kebanyakan yang tiada berpangkat dan tiada berbangsa, terkadang-kadang sampai empat istrinya, mengapa pula engkau tiada?
Bab III
Berjalan-Jalan ke Gunung Padang

Pada sangkaku aku terlambat, kata Arifin setelah ia duduk dekat Samsu.
Biarpun engkau terlambat, tentu akan kutunggu juga. Sebab demikian perjanjian kita, jawab Samsu.
Apa sebabnya engkau terlambat? Tanya Nurbaya.
Sebab aku memang orang yang suka tidur, apalagi tadi malam aku tak dapat lekas-lekas tidur, jawab Arifin.
Mengapa? Ada keramaian di rumahmu tadi malam? Tanya Samsu.
Ya, memang ada keramaian yang amat besar. Sampai pukul dua belas malam masih jaga aku.
Cobalah lihat Sam, baik hatinya Arifin ini! Ada keramaian di rumahnya, tiada dipanggil-panggilnya kita, kata Nurbaya mengumpat.
Cobalah kau ceritakan kepada kami, bagaimana asal dan kejadiannya pengamukan itu? Kata Bakhtiar.
Oleh sebab engkau sekalian minta supaya kuceritakan hal ini, itulah tandanya engkau sekalian hendak mendengarnya juga bukan? Akan tetapi kita hampir sampai ke muara, katakan keinginan hatimu itu, sampai nanti, kalau kita telah mendaki.
Coba lihat, kikirnya Arifin, jawab Bakhtiar yang hendak membalas dendam pada Arifin. ”sudah tiada dipanggilnya kita, tatkala ada keramaian di rumahnya. Sekarang ditahannya pula keinginan hati hendak mengetahui keramaian itu.
Sesungguhnya keempat anak muda itu telah sampai dekat ke sebuah rumah jaga di muara. Di sebelah pangkalan ini adalah sebuah rumah tempat pengail-ngail menjual ikan, dan di sebelah baratnya menjelang Gunung Padang sebagai kepala naga yang timbul dari dalam laut, yang menjadi leher naga ini adalah bagian yan rendah, itulah badan ular naga yang membengkok ke timur diiringkan oleh Sungai Arau yang mengalir di kakinya.
Jauh di sebelah barat tengah-tengah kolam, kelihatan beberapa buah pulau yang berleret-leret letaknya sebagai batas pagar kolam. Dibalik pulau-pulau itu adalah suatu mustika yang bundar sebagai sebuah bola mas yang menyala-nyala, memancarkan cahayanya yang kilau kemilu ke muka air kolam, seakan-akan sebuah kaca besar membalikkan cahaya yang jartuh ke atasnya, kedalam taman padi, menyinari segala pohon-pohon dan bunga-bungaan yang ada di sana.
Perlahan-lahan dengan tak kelihatan jalannya, turunlah mustika itu ke bawah. Bagai ditarik oleh seorang jin yang tida kelihatan sehingga akhirnya tenggelamlah ia ke dalam kolam yang ujungnya bagaikan bersabung dengan langit, meninggalkan gambar-gambar yang rupanya seakan-akan timbul dari dalam air.
Gunung Padang yang tingginya kira-kira 322 m, ialah ujung sebelah utara gunung-gunung rendah yang memanjang di sebelah selatan Kota Padang. Itu sebabnya pinggir laut di tempat itu pada beberapa tempat curam dan jarang didiami orang. Asalnya gunung-gunung ini pada Bukit Barisan yang memanjang di tengah-tengah pulau Sumatera dari ujung barat laut ke ujung tenggara. Gunung Padang sebagai suatu cabang Bukit Barisan itu , yang menganjur ke barat, sampai ke tepi laut kota Padang. Orang Belanda menamai Gunung Padang ini Apenberg (Gunung Kera), sebab puncaknya banyak kera yang jinak-jinak yang memberi kesukaan pada mereka yang mendaki.

Bab IV
Putri Rubiah dengan Saudaranya Sutan Hamzah

Pada petang hari ahad, tatkala Samsu dan sahabatnya pergi jalan-jalan ke Gunung Padang. Kelihatan putri rubiah duduk di serambi belakang rumahnya, diatas sebuah tikar rumput sedang menjahit. Dekat puri ini duduk saudaranya yang bungsu Sutan Hamzah sedang menggulung rokok daun nipah. Bagaimana pikiranmu tentang kakakmu Mahmud Hamzah? Pada pikiran hamba kelakuannya sangat berubah acapkali timbul pula dalam hatiku, memang pangkat itu aku sukai dan harus dijaga benar-benar. Supaya jangan bercacat nama. Tetapi janganlah hendaknya karena itu, berubah kelakuan adat dan pikirannya.
Yang menjadikan bimbang hatiku siang-malam hingga acapkali aku tak dapat tidur karena memikirkan hal ini. Aku takut kalau benar diperbuatnya itu, menjadi berbantah kita, antara saudara dengan saudar. Bukan tak baik saja perbuatan yang sedemikian, tetapi aku malu kepada orang lain. Sebab tak layak orang yang berbangsa seperti kita berbuat begitu, kata Putri Rubiah pula dengan mengeluh.
Bab V
Samsul Bahri Berangkat ke Jakarta

Sedang mereka asik bekerja itu, datanglah Nurbaya dari rumahnya dengan berpakaian yang indah-indah, membawa dua ikat karangan dari bermacam-macam bunga yang baik warnanya. Lalu bertanya, ”Belum selesai Sam?” Tatkala mendengar perkataan ini, menoleh Samsu ke belakang dan ketika terpandang olehnya gadis ini, tidaklah terkata-kata, ia sejurus lemahnya. Mukanya yang mula-mula riang, tiba-tiba menjadi muram. Jika Nurbaya tiada lekas menegurnya pula, barangkali kedatangan Nurbaya ini akan mengeluarkan air mata. Ketika Nurbaya hendak kembali ke rumahnya, berkatalah Samsu, ”Biarlah ku antarkan engkau ke rumahmu, sebab hari telah jauh malam. Tak baik perempuan berjalan seorang diri.” Oleh karena itu setuju dengan maksud Samsu ini, kedua anak muda ini berjalan perlahan-lahan menuju rumah Siti Nurbaya. Tatkala itu bulan bercahaya bagaikan siang. Bintang-bintang yang serupa mestika, berkilau-kilauan di langit tinggi sebagai kunang-kunang di tempat yang gelap. Awan bergerak beriring-iring dari barat lalu ke timur.
”Alangkah terang bulan ini,” kata Samsu tengah berjalan itu. ”Menambah rawan dan pilu hatiku, sehingga bertambah-tambah berat bagiku meninggalkan Padang ini. Memang sejak dari kemarin tiadalah dapat kulipur hatiku dengan pikiran akan melihat negeri yang selalu lebih besar dan menuntut pelajaran yang lebih tinggi saja. Makin dekat aku pada waktu akan berangkat, makin hancur hatiku.”
”Ada suatu pikiran yang selalu menggoda hatiku, yang selalu melintas dalam ingatan dan tak dapat kulupakan siang malam.” Dengan bercakap-cakap sedemikian sampailah keduanya ke dalam pekarangan Nurbaya. Lalu duduklah mereka berdekat-dekatan di atas sebuah bangku, di bawah pohon tanjung yang rindang dalam kebun anak gadis ini.
Engkau tiada tahu rasa hatiku saat ini: itulah sebabnya kau permudah saja hal ini, pikiran yang ada dalam hatiku rupanya tak ada dalam hatimu, sehingga tak dapat kau pikirkan hatiku.
Nurbaya, karena besok aku akan meninggalkan kota Padang ini, akan pergi ke rantau orang, entah berbalik entah tidak. Sebab itu pada sangkaku inilah waktunya akan membukakan rahasia hatiku. Ketahuilah olehmu, Nur, bahwa aku ini sangat mencintaimu. Percintaan itu telah lama kusembunyikan dalam hatiku, sekarang baru kubukakan. Karena pada sangkaku, rahasia itu harus kau ketahui, sebelum kita bercerai. Siapa tahu, barangkali tak dapati aku kembali lagi, tak dapat kita ketemu pula. Jika tidak kubukakan rahasia ini kepadamu, pastilah ia menjadi sebagai duri di dalam daging padaku, terasa-rasa bebilang waktu. Oleh sebab untung manusia tidak dapat ditentukan, itulah sebabnya sangat ingin hatiku hendak mengetahui bagaimanakah hatimu kepadaku atau hanya aku sendiri yang rindu seorang? Sambil memegang tangan Nurbaya.
Samsu menghampiri Nurbaya lalu bertanya perlahan-lahan dengan mendekatkan kepalanya kepada kepala Nurbaya, ”Sudikah engkau kelak menjadi istriku, apabila aku telah berpangkat dokter?”
”Masakan tak sudi,” sahut Nurbaya perlahan-lahan sebagai takut mengeluarkan perkataan ini....
Maka diciumlah oleh Samsu perlahan-lahan punggung tangan perawan ini.
Sekarang maklumlah engkau, bagaimana takkan khwatir hatiku meninggalkan engkau.
Terimalah olehmu dokoh ini! di dalamnya ada gambarku. Nurbaya menerima tanda tanda mata dari Samsu laulu diciumnya, sedang air matanya jatuh bercucuran.
Sekalian merela, menangis mencucurkan air mata, karena hampir sekaliannya sayang kepada Samsu, sebab adat dan kelakuannya yang baik.
Akhirnya ia pergilah kepada Nurbaya, lalu dipeganglah tangan gadis ini beberapa lamanya, sebagai tak hendak didepannya. Dadanya rasakan sesak menahan kesedihan yang timbul dalam hatinya karena perceraian ini, sehingga ia tiadalah dapat berkata-kata lain daripada, ”Selamat tinggal Nur....! Mudah-mudahan lekas bertemu kembali. ”
Nurbaya pun tiada pula dapat menjawab apa-apa melainkan ”Selamat jalan Sam!..... selamat sampai ke Jakarta!”

Bab VI
Datuk Maringgih

Di kampung ranah, di kota Padang adalah sebuah rumah kayu, beratapkan seng, letaknya jauh dari jalan besar, dalam kebun yang luas, tersembunyi di bawah pohon-pohon kayu yang rindang. Jika ditilik pada alat perkakas rumah ini dan susunannya, nyatalah rumah ini suatu rumah yang tiada dipelihara benar-benar karena sekalian yang ada dalamnya telah tua kotor dan tempatnya tiada teratur dengan baik.
Itulah rumah Datuk Maringgih, saudagar yang termasyhur kaya di Padang. Ia bergelar Datuk bukanlah karena ia penghulu adat, melainkan panggilan saja baginya. Walaupun rumahnya ini katanya sekedar tempat gendi kereta dan kuda dengan kursinya, tetapi memang itulah rumahnya yang sesungguh-sungguhnya. Karena di sanalah ia tetap tinggal. Sedang sebuah daripada tokonya yang dikatakannya rumahnya yang sebenar-benarnya.
Datuk maringgih ini bukan seorang yang masih muda, remaja dan bersikap tampan, melainkan seorang tua renta yang buruk.
Saudagar ini adalah seorang saudagar yang bakhil, loba dan tamak, tiada pengasih dan penyayang serta bengis, kasar budi pekertinya. Oleh sebab itu kerap kali dipermain-mainkannya hartanya itu dan dibawanya tidur bersama-sama untuk mendapatkan mimpi yang menyenangkan hatinya.
Tetapi ingat! Kata datuk maringgih pula, kalau tak sampai maksudku ini tak perlu engkau datang-datang lagi kemari.
Mendengar perkataan ini, berdebarlah hati pendekar lima, karena artinya tentulah ia akan dilepaskan oleh datuk maringgih, apabila maksudnya ini tak sampai.
Tiada berapa lama kemudian daripada itu kelihatanlah pendekar lima keluar dari dalam bilik tadi lalu hilang di dalam gelap.

Bab VII
Surat Samsul Bahri kepada Nurbaya

Tiga bulan Samsul Bahri berangkat ke jakarta, meninggalkan tanah airnya. Sejak hari perceraiannya, sampai kepada waktu itu kekasihnya ini tiada hilang barang sekejap pun dari ingatannya.
Mula-mula pada sangkanya akan mudah melipur pikirannya, apabila kesedihan hatinya telah hilang. Akan tetapi setelah sepekan lamanya ia bagaikan demam dan setelah sembuh pula ia kembali pada lahirnya, pada batinnya bertambah-tambah ia menanggung kesakitan.
Ketika itulah baru diketahuinya benar-benar betapa besar harga saudaranya dan kekasihnya itu baginya. Karena ketika itu pula dirasainya benar-benar keberatan perceraiannya itu.
Jika datang godaan yang sedemikian itu, dicobanyalah melipur hatinya dengan pikiran ini: Samsu tiada lama lagi akan kembali dan tentulah ia akan dapat bertemu kembali dengan dia. Apabila Samsu menjadi dokter, tentulah ia akan beroleh kemudian dan kesenangan pula.
Tatkala Nurbaya berpikir-pikr sedemikian itu, tiba-tiba didenarnya suara surat pos, sehingga terkejutlah ia. Di tangga rumahnya dilihat seorang tukang pos berdiri memegang sepucuk surat.
Maka Nurbaya berseri, ketika melihat surat itu karena besar hatinya dan pada bibirnya kelihatab gelak senyum, yang mencekung kedua pipinya, menambah manis rupanya. Bertambah-tambah menerima surat dari Nurbaya.
Tatkala Nurbaya membaca surat, berlinang-linanglah air matanya, karena untungnya pun sedemikian pula.
Adikku Nurbaya!” demikianlah bunyi surat itu, ketika terus dibaca oleh Nurbaya.”Begitulah penanggunganku. Bukan bukan sedikit beratnya perceraian rasanya. Bukan engkau saja yang terbang di mataku.”
Setelah dibacaa oleh Nurbaya surat itu, lalu diciumnya dan diletakkannya ke atas dadanya, ketempat jantungnya yang berelebar kemudian disimpannya dalam lemari pakaiannya, bersama-sama dengan surat yang lain, yang telah diterimanya dari kekasihnya itu.
Tiba-tiba kira-kira pukul dua malam, terbangunlah ia daripada tidurnya dengan terperanjat karena didengarnya bunyi tabuh pada segala tempat sangat, dahsyat memberi tahu ada rumah terbakar.
Bertanyalah penghuku pada orang jaga yang ada di sana. Akhirnya tiada dapat lagi Sutan Mahmud berbendi, di situ nyatanya yang terbakar itu adalah toko baginda Sulaiman, ayah Nurbaya, yang telah habis dimakan api.

Bab VIII
Surat Nurbaya kepada Samsul Bahri

Keberatan dan kesusahan yang sangat dideritanya pada mula-mula mereka datang ke Jakarta, hilanglah sudah dan biasalah mereka pada kehidupannya yang baru. Hanya ingatan dan rindu hati Samsul Bahri kepada Nurbayalah yang tiada hendak berkurang-kurang., bahkan kian hari kian bertambah rasanya. Sehingga terkadang-kadang hampir tak dapat ditanggungnya denda yang sedemikian itu. Terlebih-lebih dalam beberapa hari ini, hatinya sangat rawan bercampur sedih, dengan tiada diketahuinya apa sebabnya: sebagai adalah sesuatu marabahaya yang telah jatuh ke atas diri kekasihnya itu. Oleh sebab itu mekinlah ia teringat kepada Nurbaya dan demikianlah bertambah ingin hatinya hendak bertemu dengan adiknya itu.
Heran, katanya dalam hatinya, tatkala ia duduk termenung seorang diri di atas sebuah batu dalam pekarangan sekolah. ”Mimpiku yang dahulu itu datang pula menggoda pikiranku. Semangatlah hatiku, tatkala ingatan kepada mimpi celaka itu mulai hilang.
Sedang ia berpikir-pikir sedemikian, datanglah Arifin membawa sepucuk surat yang dialamatkan kepada Samsu. Tatkala dilihatnya alamat surat itu nyata datangnya dari Nurbaya , masuklah ia ke dalam biliknya, sehingga hancur kaca bingkainya, sedang potret itu sendiri rusak pula dari Nurbaya.
Kekasihku Samsul Bahri
Walaupun kuketahui, bahwa surat yang malang ini yang telah kutulis dengan air mata yang bercucuran dan hati yan sangat sedih lagi pedih, terlebih daripada diiris dengan sembilu dan dibubuh asam, garam, serta pikiran yang kelam kabut dan membawa kabar yang sangat duka cita kepadamu. Aku menulis surat ini, karena takut kalau engkau bersangka bahwa sesungguhnyalah hatiku telah berpaling daripadamu.
]biarlah aku bersumpah terlebih dahulu, barangkali engkau percaya kembali kepadaku. Wallah wa nabi, tiadalah hatiku berubahy dari sediakala kepadamu dan tiadalah ada ingatanku akan menyakiti hatimu dan memutuskan pengharapanmu. Sesungguhnya aku beribu kali lebih suka mati berkalang tanah daripada hidup bertemu bangkai bebagai ini, dan jika tiada takut dan tiada ingat aku akan engkau, pastilah kubunuh diriku supaya jangan menanggung sengsara lagi.
Disitu tak dapat lah Samsu membaca surat ini lagi, sehingga menjadi kembang dan huruf yang tertulis di atasnya menjadi kurang terang. Oleh sebab itu dilampauilah oleh Samsu tulisan yan kuran terang itu, lalu dibacanya lanjutkannya.
Bagaimana rasa hati ayahku ketika mendengar kabar itu, tak dapatlah kuceritakan di sini, melainkan Allah jugalah yang mengetahuinya.
Tiada lama kemudian daripada itu, rupanya ayahku meminjam duit kepada Datuk Maringgih, banyaknya sepuluh ribu dengan janji itu bagi ayahku, tiadalah kuketakui. Barangkali akan membayar utang atau akan dipinjamkan pula membangunkan perniagaan yan telah jatuh itu.
Setelah sampailah tiga bulan, datanglah Datuk Maringgih meminta uang kembali, katanya sebab perlu dipakainya. Tetapi ayahku tiada beruang lagi, walaupun ayahku minta janji tiadalah diperkenankannya.
Oleh sebab itu, tatkala akan sampaikan janji ayahku itu kepada Datuk Maringgih pada malamnya, datanglah ia kepadaku, bertanyakan pikiranku tentang hal ini, karena keesokan tentulah akan datang Datuk ini mendengar keputusan kami.
Setelah Datuk Maringgih menagih piutangnya, tiadalah aku dapat tidur setiap malam, melainkan selalu menangis bersedih hati. Kerap kali aku terkejut, karena sebagai kelihatan olehku Datuk Maringgih datang menguasai aku. Dengan demikian badanku menjadi kurus kering tinggal kulit membalut tulang. Jika engkau melihat aku sekarang ini, pastilah tak kenal lagi engkau kepadaku.
Karena engkau sendirilah memutuskan perkara ini, jika sudi engkau menjadi istri Datuk Maringgih, selamatlah aku tak masuk penjara dan tentulah tiada akan terjual rumah dan tanah kita ini.
Tatkala ayahku melihat halku sedemikian itu, air matany tak ditahannya. Lalu diciumnya kepadaku sambil berkata, ”Nurbaya, sekali-kali aku tiada berniat hendak memaksa engkau, jika tak sudi engkau, sudahlah, tak mengapa.”
Tatkala mendengar perkataan ayahku ini, merentakkan ia dengan marahnya lalu berkata, ”jika demikian tanggunglah olehmu!” Lalu diserahkannya perkara itu kepada pegawai Belanda.
Ayahku tiada dapat menyahut apa-apa lian daripada, ”lakukan kewajiban tuan-tuan!”
Tatkala kulihat ayahku akan dibawa ke dalam penjara, sebagai seorang penjahat yang bersalah besar, gelaplah mataku dan hilanglah pikiranku dan dengan tiada ku ketahui, keluarlah aku, lalu berteriak jangan dipenjarakan ayahku! Biarlah aku jadi istri Datuk Maringgih.
Mendengar perkataan itu tersenyumlah Datuk Maringgih dengan senyum yang pada penglihatanku sebagai senyum seekor harimau yang hendak menerkam mangsanya, dan terbayanglah suka citanya dan berahi serta hawa nafsu hewan kepada matanya, sehingga terpaksa aku menutup mataku.
Setelah menangis amat sedih beberapa lamanya, tiba-tiba berdirilah ia dengan muka yang amat pucat dan mata yang bernyala-nyala, karena menahan marahnya, dipegangnyalah poto Nurbaya yang ada detetnya sambil mengangkat mukanya lalu bersumpah.

Bab IX
Samsul Bahri Pulang ke Padang

Setelah tiga hari puasa dijalankan, pada keempat harinya, masuklah sebuah kapal yang datang dari Jakarta ke Pelabuhan Teluk Bayur, membawa murid-murid sekolah Jakarta.
Diantara murid-murid itu adalah Samsul Bahri dengan ssahabatnya Arifin dan Bakhtiar.
Siti Mariyam takut kalau-kalau Samsul telah putus asa pengharapan pula. Bertanyalah ia kepada Samsu, ”Sudahkah engkau tahu bahwa Nurbaya telah kawin dengan Datuk Maringgih?”
”Sudah,” jawab Samsu dengan pensek, karena tak dapat rupanya ia mendengar lagi kabar itu.
Barangkali engkau kurang suka melihat perkawinanini, sebab sesungguhnya tak layak saudaramu itu duduk dengan Datuk Maringgih.
Tiada berapa lama kemudian daripada itu, keluarlah Samsu dari ruah orang tuanya, diiringkan oleh kusir ke rumah baginda sulaiman.
Sangat terperanjat Samsu serta sedih hatinya melihat perubahan ayah Nurbaya ini. Apabiladi tempat yang lain ia bertemu baginda sulaiman, tentulah tiada percaya ia yang berbaring itu memang mamanda angkatnya.
Tatkala itu tiba-tiba masuklah Nurbaya ke dalam bilik itu. Sesungguhnya Nurbaya telah lama datang, karena dipanggil oleh ayahnya, akan tetapi ketika didengarnya suara Samsul Bahri dalam bilik ayahmnya, tiadalah tahu apa yang hendak dibuatnya.
Setelah didengarnya janji Samsu kepada ayahnya, barulah hilang bingungnya, bertukar dengan suka yang sangat. Karena sekarang diketahuilah bahwa hati kekasih dan saudaranya ini, tiada berubah kepadanya.
Ketika Samsu memandang muka Nurbaya, dengan sekonyong-konyong terbukalah mulutnya, tiada berkata-kata, hatinya suka bercampur duka.
Tatkala terpandang oleh Nurbaya, Samsu pura-pura terperanjatlah ia.

Bab X
Kenang Kenangan Kepada Samsul Bahri

Hai pungguk! Mengapakah engkau merindu sedemikian itu, seraya memandang dengan tiada berkeputusan kepada bulan yang tinggi itu? Apakah yang menjadikan sedihmu itu, dan apakah maksud perbuatanmu itu?
Aduh bulan, aduh jiwaku, jantung hatiku, cahay mataku! Bilakh engkau turun ke dunia ini, melihat aku yang sekian lama mengandung rindu dendam kepadamu? Bilakah engkau jatuh ke bumi, ke atas pangkuanku untuk mengobati luka hatiku yang telah tembus kena panah berahi merindukan engkau dengan tiada mengindahkan jerih dan lelah.
Aduh kekasihku yang sangat kucintai! Betapakah ahirnya aku ini? karena semenjak aku kau tingalkan, adalah halku ini sebagai orang yang tiada bernyawa lagi dan adalah dunia ini rasanya telah menjadi sangat sempit.
Maka bercucuran pula air mata perempuan ini, sedang ia menangis sedemikian itu. Tiba-tiba dirasakannya bahunya dipegang orang dari belakang dan didengarnya suara orang yang lemah lembut.

Bab XI
Nurbaya Lari ke Jakarta

Pada sebuah kedai, yang ada di Teluk Bayur, kelihatan seorang laki-laki tua yang sebentar-sebentar menjenguk ke luar lalumengintip ke sana-sini, sebagai takut memperlihatkan dirinya. Setelah masuknya ia kembali ke dalam kedai itu, lalu berkata kepada perempuan muda, rupanya tak ada orang yang tahu akan perjalanan kita ini ke jakarta.
”Baiklah kak pendekarlima,” jawab pendekar tiga. Tiba-tiba kelihatan seorang laki-laki yang berpakaian serba hitam datang dengan cepat mendekati Nurbaya yang seang duduk di kursinya, tak dapat berdiri, karena pusing. Dengan segera orang itu memegang badan Nurbaya lalu mengangkat dan membawanya ke sisi kapal, hendak melemparkannya ke dalam laut. Tatkala dilihat oleh Nurbaya orang itu adalah pendekar lima yang dikenalnya, hendak menikam Samsul Bahri dahulu. Berteriaklah ia minta tolong serta berkuat hendak melepaskan dirinya dari penjahat ini.

Bab XII
Percakapan Nurbaya Dengan Alimah

Perkumpulan yang tiada sabar, terkadang-kadang, karena sangat sakit hatinya dipermalukan, bukan pekasih yang diberikannya kepada suaminya yan sedemikian, tetapi racun. Sehinga bertambah-tambah lekslah ia berpulang ke negeri yang baka.
Setelah sampai ia ke jalan besar, tiba-tiba keluarlah seseorang yang memakai baju serba hitam dari balik pohon kayu lalu menghampiri tukang kue itu, setelah dekat bertanyalah ia, ”Bagaimana, pendekar empat?”
”Dibelinya, dan aku berikan yan bergula enak.”
”Bagus, sekarang marilah kita pergi lekas-lekas dari sini.”
Turutlah aku! Lalu hilanglah keduanya pada tempat yan gelap. Pada keesokan harinya, tatkala sampai kabar kematian Nurbaya ini pada siti maryam yang sedang sakit keras di kampung sebelah, karena terkejut ditinggalkan oleh anaknya Samsu. Tiba-tiba berpulanglah pula ibu Samsul Bahri ini, sebab kabar ini rupanya sangat menyedihkan hatinya.

Bab XIII
Samsul Bahri Membunuh Diri

Sambil dipikir-pikir demikian, dibukanyalah kedua surat kawin itu dengan tangan yang gemetar. Setelah dibacanya kedua surat itu, jatuhlah ia pingsan tiada kabarkan dirinya, sebab kedua syart irulah yang membawa kabar kematian Nurbaya dan ibunya.
Beberapa lamanya ia terbaring pingsan itu, tiadalah diketahui ketika ia sadarkan dirinya pula, adalah halnya seperti orang yang gila, tak dapat berpikir dan berkata-kata.
Tatkala pintu balik ini akan ditutupnya, diperhatikannyalah segala benda yang telah dipergunakannya sekian lama. Setelah itu ditariknyalah pintu ini dengan keras, sebagai takut ia memandang lama-lama sekalian perkakas yan akan ditinggalkannya itu.
Tiba-tiba menolehlah ia kepada sahabatnya ini sebab didengarnya Samsu berkata, ”Sekarang engku jangan marah, Raf, sebab aku akan meninggalkan engkau.”
Tatkala yang diperhatikan Arifin benar-benar orang ini, nyatalah yang duduk itu Samsu, yang sedang mengacungkan sebuah pistol ke kepalanya. Dengan tiada berpikir lagi menjeritlah ia, ”Samsu, ingat akan dirimu!” sambil melompat memburu sahabatnya itu.
Akan tetapi terlambat, karena tatkala itu didengarnya bunyi pistol dan dilihatnya Samsu rebah ke bangku.

Bab XIV
Sepuluh Tahun Kemudian

Sepuluh tahun sudah Samsul Bahri menembak diri di Jakarta, kelihatanlah pada suatu hari, kira-kira pukul lima petang, dua orang opsis berjalan perlahan-lahan serta bercakap-cakap, menuju stasium kereta api di Cimahi. Walaupun kedua mereka itu sama-sama sama petah lidahnya berkata dalam bahas Belanda dan pakaiannya serupa pula, tetapi dari jauh, telah nyata sangat berlainan.

Bab XV
Rusuh Perkara Belasring di Padang

Sudahkah engkau duduk melelo mendengar kabar yang kurang baik itu? Tanya seorang tua di Pasar Bukit Tinggi kepada temannya. Kabar apakah itu, engkau malim batuah? Sahut sahabatnya. Kompeni akan meminta uang belasting kepada kita, jawab malim batuah.
Oleh sebab pemerintah merasa khawatir anak negeri tiada hendak menurut saja aturan baru ini, melainkan boleh jadi membantah, bermufakatlah pegawai-pegwai Belanda dengan pegawai anak negeri di Padang Hilir dengan tuanku-tuanku penghulu, di Padang Hulu dengan tuanku-tuanku laras untuk mencari akal yang baik, supaya dapat juga menjalankan belasting itu dengan aman.

Bab XVI
Peperngan Antara Samsul Bahri dan Datuk Maringgih

Kabar kedatangan bala tentara ini sekejap juga pecah kesana-kemari, sampai ke luar-luar kota, sehingga perempuan dan ank-anak pun tahu hal ini. Maka ramailah dibicarakan peperangan yan akan terjadi. Yang penakut, larilah bersembunyi ke gunung-gunug dengan anak bini dan harta bendanya, yang berani tinggallah di dalam kota, karena ingin hendak melihat tamasya peperangan.
Tatkala berbunyilah bedil kedua kalinya, rebahlah sebaris orang yang dimuka jatuh ke tanah. Oleh sebab cepat datang mereka menyerbukan dirinya, serdadu-serdadu, letnan, tiadalah sempat menembak lagi, lalu mempergunakan bayonetnya.
Tiada berapa lamanya beperangan itu, banyaklah yan mati dan luka pada kedua belah pihak. Untunglah pada waktu itu juga kedengaran tempik sorak serdadu letnan van stat, yang menyerbukan diri ke medan perang.
Tetapi tatkala itu juga Datuk Maringgih melompat ke mulia, menetak Samsul Bahri dengan parangnya, sambil berteriak, rasailah pula olehmu bekas tanganku, hai anjing Belanda!


IV. Biografi Penulis
MARAH RUSLI, nama lengkapnya Marah Rusli bin Sutan Abubakar, dilahirkan pada tanggal 7 Agustus 1889 di Padang, Sumatera Barat.
Riwayat Pendidikan:
1904 Taman Sekolah Rakyat di Padang
1909 Taman Sekolah Raja di Bukittinggi
1915 Taman Sekolah Dokter Hewan di Bogor
Pengalaman Kerja :
1915-1922 Menjadi dokter hewan di berbagai tempat di Nusa Tenggara Barat dan Jawa Barat
1923-1945 Menjadi dokter hewan di Semarang
1945-1949 Menjadi dokter hewan di zaman pengungsian di Sala dan Klaten, kemudian ke Semarang dan pensiun tahun 1951.
1952-1960 Dipekerjakan kembali sebagai dokter hewan di Pusat Pendidikan Peternakan Bogor.
Marah Rusli meninggal dunia tanggal 17 januari 1968, dimakamkan di Bogor. Selain mengarang, Marah Rusli juga mempunyai hobi berolahraga, musik, melukis dan sandiwara. Buku-buku karya Marah Rusli yang lain di antaranya Anak Dan Kemenakan, La Hami, Memang Jodoh, dan Gadis Yang Malang (terjemahan dari novel Charles Dickens).

Disadur dari : http://kd-sumedang.upi.edu/index.php?option=com_content&view=article&id=183:marah-rusli-sitti-nurbaya&catid=57:sejarah-sastra&Itemid=75
Reaksi:

1 komentar :

Anonim mengatakan...

kalau bisa masukan ceritanya ya mas...jd pengen melihat kembali sastra lama dan ngambil pelajaran